BAGIAN PERTAMA
“JAMAN KERATON NOESATEMBINI"
Bab 1.
ALKISAH daerah pesisir kidul (pantai selatan) yang berada didekat pulau Nusakambangan ketika itu masih merupakan satu daerah hutan belantara. Daerah pantai itu dipenuhi dengan rawa-rawa yang menghutan dengan segala binatang-binatang buas yang berkeliaran didaerah hutan itu. Tersebutlah didekat pantai selatan itu sebuah "Keraton Siluman" yang disebut "Keraton Noesatembini."
Keraton siluman ini mempunyai daerah yang amat luas membujur dari bagian timur kebarat memutar keutara sepanjang pantai laut serta menghadap membujurnya pulau Nusakambangan.
Daerah keraton Noesatembini dilingkungi dengan "Baloewarti Pring Ori Pitung Sap" (Rumpun bambu Ori sampai tujuh lapisan). Dengan keadaan pagar rumpun bambu yang meliputi tujuh sap (lapisan) itu, maka daerah keraton Noesatembini amatlah kuat sehingga sulit untuk diterobos manakala terjadi serangan musuh yang datang dari luar. Tersebutlah ketika itu, kraton Noesatembini diperintah oleh seorang Raja Putri yang bernama "Brantarara."
Ratu Brantarara, konon mempunyai paras yang amat cantik, sehingga tidak sedikit para Raja yang mendengar kecantikan serta kemolekan Ratu itu ingin mempersunting sebagai "permaisuri."
Tetapi kenyataannya segala usaha untuk mempersunting Ratu itu selalu mengalami kegagalan, karena sulitnya mencapai daerah kraton Noesatembini, sehingga Raja-raja yang menginginkan Ratu Brantarara itu tidak satupun yang dapat terlaksana.
Apalagi untuk mempersunting, sedangkan untuk bertemu saja terlalu sulit. Tersebut pula, bahwa Ratu Brantarara itu mempunyai kesaktian yang luar biasa yang pada jamannya memerintah mempunyai seekor kuda yang disebut "Kuda Sembrani. Dengan segala kebijaksanaan serta kehalusan budi dalam memerintah, maka Ratu Brantarara itu amat dicintai oleh segenap rakyatnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
https://peranwajah.blogspot.com/2019/08/mini-teater-sinopsis-ratu-dadi-raja.html?m=1
Versi sinopsis teater. Monggoh ada video pementasannya. Mampir yaaa
Posting Komentar